Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Thursday, 20 December 2012

KEMACETAN DI KOTA BANDUNG

KEMACETAN DI KOTA BANDUNG
oleh: Bimo Adriawan

Kemacetan di Pasteur
Kota senantiasa berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Heterogenitas yang merupakan unsur pembangun kota memungkinkan kemajuan itu terjadi. Kota Bandung adalah salah satu kota yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kemajuan suatu kota saat ini dapat diukur melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indikator IPM ada tiga, yaitu ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Ketika ketiga aspek IPM tersebut menunjukan kemajuan ternyata ada sesuatu yang statis.


Kota Bandung sebagai ibukota propinsi Jawa Barat mengalami hal itu. Sebagai gambaran, tahun 1999, IPM Kota Bandung mencapai angka 70.7 paling tinggi diantara kota dan kabupaten lain di Jawa Barat. Angka tersebut diproyeksikan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Namun, peningkatan indeks tidak serta merta menghapuskan permasalahan yang umum terjadi di kota-kota besar, yaitu kemacetan.

Indeks pembangunan yang tinggi seharusnya seharusnya ditunjang oleh kelancaran lalu lintas untuk mempermudah mobilitas penduduk. Kemacetan tentu saja menghambat mobilitas penduduk. Guna menguraikan permasalahan ini, tentu perlu diketahui faktor apa saja yang menjadi menyebabnya. Lalu, akibat apa yang ditimbulkan kemacetan, dan yang terakhir solusi apa yang telah ditempuh oleh pemerintah.

A. SEBAB DAN AKIBAT KEMACETAN
I. Faktor Kemacetan
Kemacetan adalah akibat. Penting sekali untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi penyebabnya. Berdasarkan penuturan dari Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Prijo Soebiandono terdapat 32 penyebab kemacetan. Diantara kesemuanya itu, penyebab utamanya antara lain:

a. Parkir di badan jalan
Bandung bisa dikatakan kurang memiliki lahan parkir. Berdasarkan buku Bandung Dalam Angka kondisi lahan parkir cenderung bertambah, tetapi tetap tidak mampu mencukupi kebutuhan parkir sehingga badan jalan pun dijadikan sebagai tempat parkir.

Pada tahun 2003 tercatat ada 208 lahan parkir yang tersebar di tujuh wilayah, dengan rincian sebagai berikut

NoWilayahJumlah Lahan Parkir
1Bojonegara42
2Cibeunying Barat22
3Cibeunying Timur72
4Tegallega22
5Karees30
6Ujung Berung/Gede Bage4
7Pasar16
TOTAL208
(sumber:Bandung Dalam Angka 2003)

NoWilayahJumlah Lahan Parkir
1Bojonegara48
2Cibeunying Barat23
3Cibeunying Timur71
4Tegallega31
5Karees31
6Ujung Berung/Gede Bage4
7Pasar14
TOTAL222
(sumber:Bandung Dalam Angka 2005)

Pada buku publikasi, Bandung Dalam Angka 2005 jumlah lahan parkir meningkat. Peningkatan sebesar 7% disebabkan oleh peningkatan jumlah lahan parkir di beberapa wilayah. Di wilayah Bojonegara jumlah lahan parkir bertambah enam lahan, Cibeunying Utara satu lahan, Tegallega bertambah cukup banyak yaitu delapan lahan, Karees satu lahan. Sementara Cibeunying Timur kehilangan satu lahan parkir dan wilayah Pasar berkurang dua lahan parkir. Wilayah Ujung berung/Gede Bage tetap dengan jumlah empat lahan parkir.


Pada tahun 2007, lahan parkir yang tersedia lebih sedikit dari tahun 2005.
NoWilayahJumlah Lahan Parkir
1Bojonegara44
2Cibeunying Barat24
3Cibeunying Timur70
4Tegallega31
5Karees35
6Ujung Berung/Gede Bage1
7Pasar13
TOTAL218
(sumber:Bandung Dalam Angka 2007)

Penurunan terjadi sekitar 2% disebabkan oleh berkurangnya lahan parkir di berbagai wilayah. Bojonegara berkurang empat lahan parkir, Cibeunying Timur satu lahan, Ujung Berung/Gede Bage tiga lahan, dan Pasar satu lahan. Sementara itu wilayah Cibeunying Barat bertambah satu lahan, Karees empat lahan, dan Tegallega tetap.

Kehilangan empat lahan parkir pada 2007 sangat merugikan, karena berakibat pada berkurangnya lebar jalan karena badan jalan dipakai untuk parkir. Alhasil jalan pun tidak bisa digunakan seluruhnya, terjadi penyempitan jalan. Pada tahun 2010, menurut Prijo terdapat sekitar 128 titik badan jalan yang menjadi tempat parkir liar.

Grafik Lahan Parkir 2003-2007


b. Pedagang Kaki Lima
Sektor informal ini lahir seiring dengan perkembangan kota. Datangnya para urbanit yang tidak memiliki kemampuan mendukung pertumbuhan pedagang kaki lima (PKL). PKL tidak memiliki tempat khusus untuk berdagang. Mereka memanfaatkan badan jalan sehingga jalan tidak bisa digunakan sepenuhnya. Kondisi ini juga membuat para pemilik kendaraan turut memarkirkan kendaraan mereka di badan jalan, seperti dijelaskan di atas.

Pedagang Lima

c. Pasar tumpah
Penyempitan Ruas Jalan Akibat Pasar Tumpah
Pasar merupakan sentra bisnis rakyat. Aktivitasnya seakan tiada henti, dari pagi sampai pagi lagi. Harga yang menarik dan pilihan yang banyak, membuat pasar tidak sepi pembeli. Namun, semua itu tidak selalu berdampak positif. Pasar yang banyak diminati dan aktif siang-malam membuat lalu lintas tersendat. Kemacetan hampir dapat ditemui di setiap pasar. Pedagang yang begitu banyak dan tidak terkondisikan membuat seolah-olah pasar tumpah ke jalan, dan memakan sebagian badan jalan. Jalan yang seharusnya bisa dipakai dua lajur, dipaksa hanya satu lajur saja, sisanya milik pedagang.






d. Angkutan Kota
Angkutan kota dituding sebagai biang kemacetan
Angkutan kota ditengarai menjadi biang kemacetan. Alasannya karena angkutan umum selalu menurunkan dan menaikkan penumpang seenaknya dan menunggu penumpang di badan jalan (ngetem). Tindakan tersebut tentu akan mengurangi lebar jalan yang bisa digunakan. Menurut Erwan Setiawan (Ketua DPRD Kota Bandung) pembenahan terhadap kendaraan umum harus dilakukan untuk mengurangi kemacetan di Kota Bandung. Menurutnya Manajemen transportasi umum di Kota Bandung perlu diperbaiki.

Namun, menaikkan dan menurunkan penumpang tidak serta merta kesalahan supir. Kondisi demikian tercipta karena permintaan dari penumpang. Seringkali penumpang menggerutu apabila supir tidak memberhentikan angkotnya karena si supir berusaha menaati rambu lalu lintas. Jadi, mentalitas penumpang juga harus dibangun kembali supaya dapat mengerti dan memahami aturan lalu lintas. 

e. Pembangunan ruas jalan tidak sesuai peningkatan volume kendaraan
Penyebab ini merupakan penyebab yang umum. Hampir semua wilayah perkotaan di Indonesia mengalaminya. Pembangunan dan perbaikan infrastruktur  begitu minim, sedangkan volume kendaraan baru meningkat begitu pesat. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan volume kendaraan tidak sebanding dengan jalan, yang akhirnya menimbulkan kemacetan.

Pada tahun 2003, panjang jalan keseluruhan di Kota Bandung mencapai 1.103.71 km. Panjang jalan tersebut bertambah menjadi 1.221.69 km pada tahun 2005, dan tahun 2007 bertambah lagi menjadi 1.230.230 km.

Jumlah Kendaraan > Luas Jalan
Namun, peningkatan panjang jalan berbanding lurus dengan panjang jalan yang rusak. Pada tahun 2003, panjang jalan yang rusak mencapai 165.00 km, yang artinya hanya sekitar 85% panjang jalan yang kondisinya baik. Tahun 2005 terjadi perbaikan, panjang jalan yang rusak hanya 128.63 km, sekitar 89% jalan dalam kondisi baik. Terjadi peningkatan sebesar 4% dari tahun 2003. Tahun 2007, panjang jalan yang rusak bertambah lagi menjadi 150.44 km, jalan yang ada dalam kondisi baik menurun 1% menjadi 88%.

Jumlah kendaraan dari Kota Bandung cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2004 jumlah kendaraan mencapai  699.668 kendaraan dari berbagai jenis. Pada tahun 2007, jumlah kendaraan meningkat menjadi 822.538 atau sekitar 18%. Peningkatan volume kendaraan sekitar 18% tidak sebanding dengan peningkatan jalan yang hanya meningkat 1% dari tahun 2005 ke 2007. Kondisi ini jelas berakibat kemacetan di Kota Bandung.

II. Dampak Kemacetan
Polusi Udara
Kemacetan berakibat kepada berbagai aspek. Hal yang paling umum adalah keterlambatan beraktivitas, seperti sekolah atau kerja. Perhitungan matematis akibat kemacetan bagitu besar ruginya. Menurut, Gingin Ginanjar (Kasubbid Infrastruktur dan Prasarana Bappeda Kota Bandung), pada jam sibuk, kendaraan di Kota Bandung hanya mampu bergerak 15.71 km/jam dan itu mengakibatkan uang terbuang di jalan sebesar Rp. 2.46 Triliun serta menyumbangkan 66.34% emisi gas buang transportasi.

Pernyataan Gingin dapat dipahami. Penggunaan bahan bakar menjadi tidak efektif karena digunakan pada kecepatan lambat atau bahkan diam. Kondisi udara di jalan pun tidak segar lagi seperti dahulu. Walaupun menurut Riza Wardana (Ketua Badan Pemerhati Lingkungan Hidup Kota Bandung) kualitas udara masih ada di bawah ambang batas normal. Tetapi dengan kondisi alat ukur kualitas udara yang rata-rata sudah rusak, sudah seharusnya diperhitungkan kembali. 

Stres akibat kemacetan
Bis yang mengeluarkan gas buangan yang hitam pekat dan banyak, tidaklah sedikit, ditambah banyaknya kendaraan lain yang turut menyumbangkan gas buangannya. Pertambahan jumlah pohon pun tidak sebanding dengan pertambahan kendaraan bermotor. Kondisi yang ada justru berbanding terbalik. Jumlah pohon cenderung berkurang sementara kendaraan bermotor cenderung terus bertambah. Akibatnya udara kotor karena jumlah pohon semakin sedikit.

Selain itu, aspek psikologis pengguna jalan juga menjadi terganggu. Kondisi macet ketika akan bepergian tentu membuat jengkel para pengguna jalan. Akibatnya tempramen pengguna jalan cenderung tinggi akibat stress di jalanan. 

B. SOLUSI KEMACETAN DI KOTA BANDUNG

I. Solusi Jangka Pendek
Solusi ini berlaku mengurai kemacetan dengan cepat sampai terwujudnya solusi jangka panjang. Dinas perhubungan yang dalam hal ini terkait langsung memulai pemecahan masalah dengan membenahi badan jalan yang biasa dipakai sebagai lahan parkir. Penertiban juga dilakukan di lahan parkir pusat bisnis, sekolah, dan perkantoran.

Wacana untuk memajukan jam sekolah seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Jakarta juga sempat mengemuka. Terjadi pro dan kontra dalam wacana tersebut. Pengamat Pendidikan dan Ketua Lembaga Advokasi Pendidikan Kota Bandung, Dan Satriana mengungkapkan bahwa wacana tersebut tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan kemacetan di Kota Bandung. Menurutnya, wacana itu memperlihatkan bahwa tugas pemkot dialihkan kepada anak-anak sekolah, dan ini adalah wacana yang tidak cerdas. 

Gagasannya adalah pemberlakuan sistem rayonisasi. Sistem yang memungkinkan siswa bersekolah di sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya. Dengan begitu diharapkan siswa pulang-pergi lebih mudah dan akan lebih rapi. Klaim bahwa sekolah sebagai faktor penyebab kemacetan bisa dihilangkan. Hal tersebut diperkuat olah pendapat pakar transportasi ITB, Ofyar Z Tamin. Pendapatnya, dengan memajukan jam sekolah malah akan membuat siswa membawa kendaraan sendiri. Artinya akan semakin menambah kemacetan. Gagasannya, perlu pengalihan dari transportasi pribadi ke massal.

Pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang tepat dalam waktu yang singkat. Tidak bisa menunggu pembangunan fasilitas transportasi yang sifatnya jangka panjang. Optimalisasi petugas lalu lintas, dan persiapan yang matang seperti pembagian jalan yang tegas perlu dilakukan. Kemacetan terus terjadi tanpa adanya solusi jangka pendek. Jika tidak cepat masyarakat akan resah dan tidak percaya kepada pemerintah.

II. Solusi Jangka Panjang
Pemerintah perlu melakukan terobosan besar dalam menyikapi permasalahan kemacetan ini. Pembenahan dan penambahan infrastruktur perlu dilakukan. Akar permasalahan kemacetan perlu dikaji dan diberi solusi yang tepat. Penyelesaian dengan fokus pada akibat tidaklah relevan lagi, sudah saatnya fokusnya berpindah ke sebab atau akar masalah.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, Dinas Perhubungan Kota Bandung telah melakukan riset bersama Institut Teknologi Bandung dalam rangka memenuhi kebutuhan akan lahan parkir. Diharapkan dengan tersedianya lahan parkir yang memadai, badan jalan bisa bersih dari parkir liar dan jalan dapat digunakan seluruhnya.

Pasar Tradisional Terkonsentrasi di Hong Kong. Bisakah kita?
Pedagang kaki lima juga perlu dirapikan. Pedagang kaki lima (PKL) sebenarnya bisa menjadi aset berharga bagi kota jika dikelola dengan baik. Penggusuran tidak dapat menghilangkan keberadaan PKL, alternatif yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah merelokasi PKL dan menjadikannya sentra usaha rakyat. Sehingga PKL menjadi aset yang turut menyumbangkan pemasukan kepada pemerintah kota.

Pedagang pasar yang tumpah ke jalan merupakan simbol dari meningkatnya aktivitas ekonomi rakyat. Sama halnya dengan PKL, penggusuran tidak bisa menyelesaikan permasalahan. Pembangunan pasar yang nyaman, aman, dan mampu menampung para penjual akan membuat penjual tidak lagi berjualan sampai ke jalan. Hal ini pun merupakan potensi kota yang seharusnya dikelola dengan baik. Kemacetan dapat terhindari, jalan dapat digunakan seluruhnya, dan pasar menjadi rapi dan bermanfaat.


transportasi massal yang nyaman
Aspek yang paling penting adalah mengurangi laju pertumbuhan kendaraan. Sebab meningkatnya volume kendaraan adalah tidak tersedianya transportasi massal yang aman dan nyaman. Perbaikan terhadap transportasi massal wajib untuk dilakukan. Trans Metro Bandung merupakan alternatif yang baik. Damri juga perlu mengoptimalkan armadanya dengan memberikan bis yang baik dan nyaman. Dinas perhubungan juga perlu merapikan angkutan kota (angkot) sehingga tidak lagi ngetem di mana saja yang sudah tentu merugikan pengguna angkot dan pengguna jalan lain.

Fly Over salah satu solusi kemacetan
Jika tidak ada transportasi massal yang representatif maka volume kendaraan akan terus meningkat. Hal itu tidak mampu diimbangi penambahan jalan. Alternatif yang telah diusahakan oleh pemerintah kota adalah dengan membangun jalan laying di beberapa titik, seperti Cimindi, Kiaracondong, dan Pasupati.

Menurut Gingin, Bappeda telah mempersiapkan masterplan transportasi sehingga tercipta sistem transportasi yang aman dan nyaman. Aspek nonfisik juga perlu diperbaharui, seperti manajemen lalu lintas, pelayanan transportasi umum, pendanaan, pengaturan, kelembagaan, dan perilaku pengguna jalan, sebagai pendukung aspek fisik. Jika keduanya mampu berjalan dengan baik maka harapan reformasi transportasi Kota Bandung dapat terwujud.
 
Solusi jangka panjang yang utama adalah perbaikan mentalitas masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat haruslah mengerti dan peka terhadap persoalan-persoalan sosial dan lingkungan di sekitarnya. Tampaknya apatisme masyarakat sudah semakin tinggi. 

Shibuya, Tokyo Jepang. Orang semua?!
Ada seorang guru yang mengeluarkan pernyataan sangat menyentil. Pernyataannya kurang lebih seperti ini "kok rakyat kita begitu gemar membeli motor-motor dan mobil-mobil Jepang, Cina, dll padahal di negara asal si mobil dan si motor itu rakyatnya kebanyakan berjalan kaki, bersepeda, dan berkendaraan umum." Pernyataan tadi menyiratkan makna bahwa selain infrastruktur transportasi, aspek mentalitas masyarakat pun perlu dibangun. Paling tidak pemerintah bisa menstimulusnya dengan berbagai cara.


Jalur Sepeda perlu dirawat dan diperluas
Peningkatan kualitas transpotasi massal bisa menjadi salah satu pemancingnya. Selain itu, kampanye penghematan bbm dan anjuran penggunaan sepeda yang dikeluarkan oleh Kementrian ESDM juga sangat membantu mengubah persepsi masyarakat terhadap transportasi. Pembuatan jalur sepeda dan perawatannya merupakan langkah nyata selain para pejabat juga memberikan contoh dengan bersepeda atau berkendaraan umum dalam aktivitasnya. 

Komunitas pesepeda seperti KosKas Bandung, B2W Bandung, B2W Indonesia harus diapresiasi atas upaya positif mereka. Mungkin tidak ada salahnya pemerintah pun turut serta membuat saluran-saluran aspirasi publik lainnya sebagai suatu masukan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan terkait transportasi. 


SIMPULAN

Kemacetan di Kota Bandung disebabkan oleh banyak faktor. Dari sekian banyak faktor, terdapat lima faktor utama, yaitu penyempitan jalan akibat dari kurangnya lahan parkir, pedagang kaki lima, pasar tumpah, dan angkutan kota yang menunggu penumpang di sembarang tempat. Faktor utama lainnya adalah volume kendaraan lebih besar dari pada panjang jalan. Akibatnya, aktivitas keseharian masyarakat menjadi terhambat. Kerugian materi akibat penggunaan bahan bakar yang tidak optimal, dan polusi yang merusak kesehatan masyarakat.

Pemerintah Kota Bandung terus berupaya menyelesaikan masalah tersebut. Berbagai kebijakan yang sifatnya jangka pendek terus dikeluarkan. Diantaranya penertiban kendaraan yang parkir di badan jalan, optimalisasi petugas lalu lintas. Untuk solusi jangka panjang perlu pembangunan dan pengoptimalan infrastruktur. Aspek nonfisik pun perlu dipersiapkan demi terciptanya transportasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat Kota Bandung.

Perlu peran serta pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi kemacetan di Kota Bandung ini. Jika bukan kita yang memulai siapa lagi? Ayo pulihkan Kota Bandung

 

Daftar Pustaka:

Bandung. BPS. 2004.
Bandung Dalam Angka 2003
.Bandung.

Bandung. BPS. 2006.
Bandung Dalam Angka 200
5.Bandung.

Bandung. BPS. 2008.
Bandung Dalam Angka 200
7.Bandung.

Lubis, Nina H.2008.
Metode Sejarah
. Bandung: Satya Historika.

Sumber Internet:






Sumber Gambar:
 

Friday, 15 June 2012

KEBIJAKAN EKONOMI PEMERINTAH JEPANG DAN PENGARUHNYA TERHADAP RAKYAT INDONESIA 1942-1945

KEBIJAKAN EKONOMI PEMERINTAH JEPANG DAN PENGARUHNYA TERHADAP RAKYAT INDONESIA 1942-1945

A. Kedatangan Jepang

Kapitulasi Kalijati
Kedatangan Jepang ke Indonesia menandakan berakhirnya kekuasaan Hindia-Belanda. Periode ini sangat menentukan perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Kedatangan Jepang ke Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari Perang Pasifik sebagai bagian dari Perang Dunia II. 

Sebelum menguasai wilayah Indonesia, Jepang menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour di bawah komando Laksamana Nagano pada 7 Desember 1941. Setelah melumpuhkan kekuatan Amerika Serikat di Pasifik, Pada tanggal 18 Desember 1941, Hindia Belanda mengumumkan perang dengan Jepang. Pada 1 Januari 1942, Jepang meresponnya dengan menyatakan perang dengan Hindia-Belanda. Militer Jepang masuk ke Hindia-Belanda melalui Tarakan (Kalimantan) (Lubis, 2004:144).

Selanjutnya militer Jepang bergerak ke Pulau Jawa, mereka dengan mudah menghancurkan armada laut sekutu di Laut Jawa, kemudian mendarat di daerah Eretan Wetan, Cirebon dan Banten pada 1 Maret 1942. Militer Jepang pada hari yang sama, berhasil menguasai lapangan udara Kalijati, Subang. Pemerintah Kolonial berusaha merebut kembali lapangan udara Kalijati pada 2-4 Maret 1942, tetapi gagal.

Pada 5 Maret 1942, militer Jepang, bersiap-siap untuk menggempur Ciater dan diteruskan ke Bandung. Pasukan Belanda yang berada di Ciater terpaksa mundur ke Lembang. Kekuatan Jepang tidak dapat dibendung oleh pasukan Belanda, akhirnya pada 7 Maret 1942, Lembang berhasil dikuasai oleh Jepang. Pasukan Sekutu yang bertahan di Bandung akhirnya menyerah pada 9 Maret 1942, Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang (Lubis, 2004:145-146).

B. Kebijakan Umum Pemerintah Jepang

Perang Asia Timur Raya
Berakhirnya Pemerintahan Hindia-Belanda yang digantikan oleh Pemerintahan Jepang tentu disertai perubahan kebijakan. Pemerintah Jepang sangat memerlukan sumber daya untuk menunjang militernya dalam Perang Pasifik. Demi kelancaran dalam memperoleh sumber daya, Pemerintah Jepang pada awal kedatangannya membuat berbagai kebijakan yang menarik simpati rakyat Indonesia.

Bahasa Indonesia dan bendera merah putih tidak lagi dikekang oleh pemerintah. Pribumi yang berpendidikan mendapat jabatan di pemerintahan. Ulama pun digandeng oleh pemerintah Jepang, berbeda dengan pemerintah Hindia-Belanda yang kerap bersitegang dengan ulama. Upaya-upaya tersebut berhasil membuat rakyat Indonesia bersimpati.

Propaganda Jepang
Kebijakan pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang adalah melarang kegiatan berkumpul dan dan rapat, tertuang dalam UU No. 2 yang diperkuat dalam UU No. 3 pada 20 Maret 1942, yang isinya melarang segala macam perbincangan, pergerakan, atau propaganda mengenai aturan dan susunan organisasi Negara (Lubis, 2004:150). Pergerakan politik rakyat Indonesia yang pada pemerintahan Hindia-Belanda begitu gencar menjadi terhambat pada pemerintahan Jepang. Pemerintah Jepang membuat berbagai badan untuk mengalihkan dan menumpulkan radikalisme dari partai politik yang ada sebelumnya.

Stratifikasi sosial pada pemerintahan Jepang berubah, Jepang berada di posisi teratas disusul oleh Timur Asing dan Indonesia pada lapis kedua, dan Belanda serta Eropa pada lapis ketiga, sebelumnya pada pemerintahan Hindia-Belanda Jepang berada di lapis kedua dan Belanda serta Eropa di lapis pertama. Penempatan orang Belanda dan Eropa pada lapis ketiga berdampak pada perkebunan yang telah mereka bangun. Perkebunan milik Belanda dan Eropa disita oleh Jepang. Berbagai kebijakan yang mengatur perkebunan dikeluarkan, seperti produksi, rehabilitasi, dan pemberian kredit (Lubis, 2004:152).

C. Kebijakan Ekonomi Pemerintah Jepang

Romusha
Demi mencukupi kebutuhannya, Jepang mengeluarkan kebijakan ekonomi romusha. Sedikitnya terdapat dua ratus ribu orang pribumi dipekerjakan, kebanyakan dari pekerja itu bekerja sampai mati. Ribuan wanita Indonesia pun dipaksa untuk melayani tentara Jepang (disebut juga Jugun Ianfu) (Drakeley, 2005:69). Kebijakan romusha sangat merugikan rakyat, banyaknya pekerja yang terlibat menjadi romusha disebabkan ketidaktahuan mengenai apa sebenarnya romusha itu.

Sistem perekrutan diselenggarakan di desa-desa melalui lurah/kepala desa. Kondisi ekonomi yang serba sulit membuat dan iming-iming kehidupan yang lebih baik membuat rakyat melamar menjadi romusha. Tenaga kerja yang melamar menjadi romusha dipaksa bekerja di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan Jepang. Pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan yang berat, seperti pembangunan infrastruktur, lapangan terbang, benteng pantai, lubang perlindugan, parit perlindungan, dan pabrik amunisi (Kurosawa, 1993:144).

Romusha dalam kesepakatan mendapatkan bayaran sebesar F. 0.50/hari dan F. 30/bulan dikirim ke keluarga mereka. Pada praktiknya, romusha dibayar kurang dari kesepakatan atau bahkan tidak dibayar. Pembayaran di setiap tempat kerja paksa berbeda-beda, ada yang dibayar F. 0.14/hari hingga F. 1.00/hari. Namun, upah yang diterima oleh romusha tidak mencukupi biaya hidupnya, harga gabah/kg adalah F. 0.10 pada Maret 1944 (Kurosawa, 1993:149).

Ilustrasi: Pabrik yang Ditinggalkan
Kebijakan lainnya adalah, penekanan angka produksi perkebunan karena tidak berkaitan dengan kebutuhan perang, fokus utama Jepang adalah peningkatan produksi beras. Akibat kebijakan ini, produksi perkebunan yang tinggi pada masa Hindia-Belanda, menjadi turun drastis. Salah satunya adalah melemahnya industri gula. Industri gula melemah karena kebijakan pemerintah Jepang untuk mengurangi produksi gula yang telah direncanakan sejak awal kedatangan. Pengurangan ini dilakukian bertahap dan rahasia.

Semua perusahaan gula milik Belanda dan Eropa disita, kemudian Jepang menyerahkan pengelolaan industri gula kepada enam perusahaan milik Jepang. Enam perusahaan Jepang tersebut membawahi perusahaan-perusahaan Belanda dan Eropa. Jumlah perkebunan selama pendudukan Jepang terus berkurang, dari 85 (1942) menjadi 13 (1945).

Begitu pula dengan angka produksi, pada tahun 1942, produksi gula mencapai 1.325.802 ton, menurun drastis menjadi hanya 84.245 ton pada tahun 1945. Jumlah produksi pada tahun 1945 merupakan jumlah yang terburuk, lebih rendah dari masa Depresi (1935) yang mencapai 506.659 ton (Kurosawa, 1993:37-43). Tidak hanya produksi gula yang menurun, produksi karet karena produksi di Jawa dan Kalimantan terhenti hal yang sama juga tejadi pada komoditas teh (Ricklefs, 2001:249).

Perkebunan Tebu Tak Lagi Berdenyut
Kecenderungan penurunan produksi ini berdampak kepada para petani. Para petani yang memiliki tanah merasa diuntungkan dengan pengurangan produksi gula. Mereka tidak lagi disibukkan dengan irigasi dan pengembalian tanah, mereka dapat menaman padi. Kondisi yang berbeda dialami oleh petani yang tidak memiliki tanah, jumlahnya lebih banyak daripada petani yang memiliki tanah.

Mereka menggantungkan hidupnya dari upah perkebunan. Begitu produksi gula dikurangi, kehidupan mereka menjadi semakin sulit. Akibat, pengurangan produksi gula, jumlah pengangguran meningkat. Para pengangguran ini banyak dimobilisasi oleh kinro hoshi (tenaga kerja sukarela) untuk menjadi romusha (Kurosawa: 1993:47). Pilihan yang benar-benar sulit.

Terdapat usaha-usaha untuk memperbaiki kondisi ini, pada Juli 1944, Fujinkai dan Kridodarmo membuatkan 200.000 baju untuk dihadiahkan kepada romusha, bahan pembuatan baju ini disediakan oleh Koochi Zimu Kyoku (Sinar Baroe, 15 Juli 1944:3). Perhatian bagi keluarga romusha pun berdatangan dari badan-badan bentukkan Jepang, pada bulan yang sama, keluarga dan anak-anak romusha diberikan sejumlah pakaian dan uang (Surakarta dan Surabaya) (Asia Raya, 15 Juli 1944:2).

Mereka pun diberikan pekerjaan untuk menambah hasil bumi atau membuat pakaian (Sinar Baroe, 29 Juli 1944:3). Kemudian pada September 1944, dukungan terhadap romusha juga muncul dari Chuoo Sangi in, yang menempatkan romusha sebagai prajurit ekonomi, artinya mereka layak diberi penghargaan sama seperti prajurit PETA dan Heiho.

Para Romusha
Sebagai bukti penghargaan kepada romusha, di Pati diadakan sayembara untuk membuat sebuah model penghargaan yang nantinya akan ditempelkan di depan pintu rumah keluarga romusha, sama seperti yang diberikan pada prajurit Heiho (Sinar Baroe, 1 September 1944:1). Pada Februari 1945, terdapat gerakan menyempurnakan urusan pengerahan tenaga romusha, tujuan gerakan ini adalah untuk menyempurnakan romusha, salah satunya adalah dengan memperlakukan romusha dengan baik, seperti keluarga (Sinar Baroe, 19 Februari 1945:2). Pemberian penghargaan dan pelabelan romusha sebagai prajurit ekonomi sangat berkait dengan upaya Jepang untuk menyamarkan kondisi nyata romusha kepada dunia internasional.

D. Kesimpulan

Jepang membutuhkan sumber daya untuk menunjang Perang Pasifik. Indonesia yang berhasil dikuasai oleh Jepang, merupakan “gudang” sumber daya, terdapat banyak sumber daya alam dan sumber daya manusia. Untuk menjamin kelancaran perang, Jepang berusaha untuk menarik simpati rakyat Indonesia dengan menampilkan kesan pertama yang begitu baik. Terdapat kebijakan yang menguntungkan pribumi, dan kebanyakan dari kebijakan lainnya merugikan pribumi.

Eksploitasi ekonomi merupakan bukti nyata dari kebijakan yang sangat merugikan pribumi. Bentuk dari kebijakan ini adalah romusha, atau kerja paksa. Sekitar dua ratus ribu rakyat pribumi menjadi romusha. Pekerjaan yang dilakukan romusha merupakan kerja yang berat, tetapi upah yang diberikan tidak sebanding dengan pekerjaan dan harga barang-barang kebutuhan. Pengurangan produksi perkebunan mengakibatkan para petani yang menganggur memilih untuk menjadi romusha. Lingkaran setan eksploitasi ekonomi ini terus ada sampai tahun 1945, ketika Jepang menyerah pada sekutu dan Indonesia merdeka.

Daftar Pustaka :
Buku:
Drakeley, Steven.2005.
The History of Indonesia. Westport: Greenwood.

Kurosawa, Aiko.1993.
Mobilisasi dan Kontrol;Studi tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945. Jakarta: Grasindo.

Lubis, Nina H. 2004.
Banten dalam Pergumulan Sejarah; Sultan, Ulama, Jawara. Jakarta: LP3ES.

Ricklefs, M.C.2001.
A History of Modern Indonesia since c. 1200; Third Edition. Basingstoke: Palgrave.

Koran (www.niod.x-cago.com):
Asia Raya, 15 Juli 1944
Sinar Baroe, 15 Juli 1944
Sinar Baroe, 29 Juli 1944
Sinar Baroe, 1 September 1944
Sinar Baroe, 19 Februari 1945

Sumber Internet:

http://www.bloggaul.com/martanto/readblog/100459/kebijakan-ekonomi-pemerintahan-jepang-dan-perubahan-sosial-ekonomi-masyarakat-jawa-tahun-1942-1945

Sumber Gambar:
Kapitulasi Kalijati
http://bloggerpurworejo.com/  

Perang Asia Timur Raya
http://sejarahperang.com/

Propaganda Jepang
http://genius.smpn1-mgl.sch.id/

Romusha
http://sdnbaktijaya01.wordpress.com/

Ilustrasi: Pabrik yang Ditinggalkan
http://tmdag.com/

Perkebunan Tebu Tak Lagi Berdenyut
http://bisnisukm.com/

Para Romusha
http://pojokmiliter.blogspot.com/

Monday, 11 June 2012

PERANG ENAM HARI

Perang Enam Hari
5-10 Juni 1967

Pendahuluan

Perang Enam Hari
Perang enam hari adalah konflik bersenjata antara Israel dengan Negara-negara Arab. Negara-negara Arab yang terlibat dalam perang enam hari ini adalah Mesir, Yordania, dan Syria. Perang yang terjadi pada 5-10 Juni 1967 merupakan rangkaian ketiga dari seri perang antara Israel dengan Negara-negara Arab, sebelumnya terjadi pada tahun 1948-1949 dan 1956. Gamal Abdul Nasser merupakan tokoh sentral dari perang enam hari ini, dia adalah Presiden Mesir.



Setahun sebelum perang ini meletus, negara-negara Arab terus menerus menolak mengakui negara Israel ditambah dengan sikap tegas dari Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser yang jelas-jelas tidak menyukai keberadaan Israel. Ia bahkan mewacanakan penghancuran Israel. Mesir dan Yordania mendukung gerilyawan Palestina yang menyerang tentara-tentara dan sipil di wilayah Israel. Mesir dan Yordania juga menyediakan tempat perlindungan bagi gerilyawan Palestina, yaitu di Jalur Gaza (Mesir) dan Tepi Barat (Yordania). Sementara itu wilayah Syria, tepatnya di dataran tinggi Golan perlahan-lahan digerogoti oleh pertanian Yahudi.

Pada April 1967, wilayah dataran tinggi Golan mulai dikuasai oleh pertanian Yahudi. Dalam upaya membersihkan wilayah dataran tinggi Golan, Pemerintah Syria terlibat pada perang udara dengan Israel. Israel berusaha mempertahankan kedudukannya di wilayah dataran tinggi Golan. Ketika Israel menjatuhkan enam pesawat tempur Syria, Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser memobilisasi 100.000 tentara dan 1.000 tank ke wilayah Sinai, wilayah perbatasan selatan Israel.

Gamal Abdul Nasser
Pada 17 Mei, Nasser membubarkan pasukan PBB di wilayah tersebut. Nasser kemudian mengumumkan penutupan Selat Tiran yang merupakan penghubung Israel dengan Laut Merah dan sumber utama minyak pada 22 Mei. Pada Mei juga disepakati pakta pertahanan antara Mesir dan Yordania. Perang pun tidak dapat terhindari lagi.

Jalannya Perang

Bersatunya ketiga Negara, Mesir, Yordania, dan Syria, dalam upaya menyerang Israel membuat negara Yahudi itu panik. Kepanikan itu melahirkan gagasan untuk melakukan penyerangan lebih awal. Pada 5 Juni, pagi hari tepatnnya pukul 8:45, pasukan udara Israel menyerang kekuatan terbesar Mesir.

Pemilihan waktu penyerangan pada pukul 8:45 disertai berbagai pertimbangan, yaitu pada waktu tersebut semua pesawat-pesawat tempur Mesir berada di pangkalan udara dan para pimpinan militer Mesir terjebak kemacetan dari rumah menuju ke markas-markas militer. Pesawat-pesawat Israel berhasil menghindari deteksi radar Mesir dan mendekati wilayah militer Mesir dari tempat yang tidak diantisipasi, akibatnya serangan mendadak Israel ini bejalan dengan mulus.

Dalam waktu satu jam, Israel telah menghancurkan 309 pesawat tempur dari total 340 pesawat tempur milik Mesir. Sementara itu, pasukan darat Israel bergerak ke semenanjung Sinai dan Jalur Gaza, dimana mereka menghadapi pasukan Mesir. Banyak korban berjatuhan dari pihak Mesir sedangkan korban di pihak Israel sedikit.

Yordania yang berbatasan dengan wilayah timur Israel sebelumnya telah diminta oleh Israel untuk tidak terlibat dalam perang. Namun, Raja Hussein, Raja Yordania, mendapat kabar dari Gamal Abdul Nasser bahwa Mesir telah menang dalam pertempuran pada pagi hari. Kabar tersebut mendorong Raja Hussein untuk memobilisasi tentara Yordania.

Pada pukul 11.00, pasukan Yordania menyerang sebagian dari Yerusalem dengan mortir. Pasukan Yordania kewalahan menghadapi serangan udara yang dilancarkan oleh Israel, akhirnya pada sore hari pasukan Yordania pun berhasil dihentikan. Pada malam harinya, pasukan darat Israel kembali menyerang pasukan Yordania dan pada 6 Juni, pagi hari pasukan Israel mengelilingi Kota Yerusalem.
Pasukan Israel di Gaza

Pada hari kedua, 6 Juni, pasukan Israel terus melancarkan serangan udara mendadaknya kepada markas udara pasukan Arab, mereka menambah jumlah pesawat tempur Arab yang hancur menjadi 416, yang terdiri dari 2/3 pesawat tempur Syria.

Dengan begitu, pasukan udara Israel menguasai penuh pertempuran udara, dan dapat dengan bebas membantu pasukan darat Israel. Pasukan udara Israel juga menghentikan laju bala bantuan dari Yordania yang menuju ke Yerusalem. Pada pukul 10.00 Israel merebut Dinding Barat (Western Wall). Ini adalah pertama kalinya Israel menguasai wilayah tersebut selama 2.000 tahun.

Pertempuran di darat terus berlanjut di Semenanjung Sinai, Pasukan Israel berhasil memukul mundur Pasukan Mesir. Pada hari ketiga, 7 Juni, Pasukan Israel juga berhasil memukul mundur Pasukan Yordania dari Tepi Barat ke Sungai Yordan. PBB menetapkan gencatan senjata antara Israel dengan Yordania yang dimulai dari sore hari.

Pada hari keempat, 8 Juni, Pasukan Israel terus maju dan berhasil mencapai Terusan Suez. Pertempuran artileri berlangsung di wilayah ini sementara itu pasukan udara Israel membinasakan Pasukan Mesir yang mundur. Semenanjung Sinai berada dalam kontrol Israel. Pasukan Israel dialihkan ke wilayah dataran tinggi Golan. Pada 9 Juni 1967, memulai serangannya ke wilayah dataran tinggi Golam.

Israel kesulitan melakukan penyerangan di daerah curam yang dikelilingi oleh Pasukan Syria. Kekuatan yang seimbang segera bergeser ke Israel, pada 10 Juni pukul 6.30, Israel dan Syria menyepakati gencatan senjata. Israel menguasai seluruh dataran tinggi Golan, termasuk bagian dri Gunung Hermon. Pertempuran antara Israel dengan Mesir secara formal belum berakhir walaupun Israel menguasai semenanjung Sinai, sampai pada tahun 1979, dalam persetujuan Camp David kedua Negara mencapai kata damai.

Akibat Perang

Perang ini berjalan dengan cepat dan dapat dioptimalkan oleh Pasukan Israel. Mesir, Yordania, dan Syria kehilangan hampir semua pasukan udaranya. Sekitar 10.000 orang Tentara Mesir tewas di Sinai dan Gaza, jumlah ini sangat besar jika dibandingkan dengan Israel yang hanya kehilangan 300 orang tentara saja. Total, Mesir kehilangan 11.000 tentara, Yordania kehilangan sekitar 7.000 tentara, Syria kehilangan sekitar 1.000 tentara, dan Israel “hanya” kehilangan 700 tentara.
Wilayah Timur Tengah Paska Perang Enam Hari

Pada 22 November, PBB mengeluarkan resolusi nomor 242 yang isinya menyebutkan bahwa Israel menarik pasukannya dari wilayah yang didudukinya. Pun negara-negara Arab harus mengakui kemerdekaan negara Israel dan menjamin keamanan di wilayah perbatasannya denga Israel. Tetapi kedua belah pihak tidak menjalankan resolusi nomor 242 itu,

Negara-negara Arab dan Palestina mengumumkan untuk melanjutkan perang dengan Israel dan Israel pun tidak melepas wilayah-wilayah yang didudukinya. Aksi-aksi terror terus berlanjut dalam situasi gencatan senjata, perang artileri, penembak jitu, dan terkadang serangan udara masih berlanjut beberapa tahun.

Israel juga memperluas wilayahnya dengan memeperkuat pertahanan di wilayah yang didudukinya sampai ke batas Negara-negara Arab. Semenajung Sinai, Tepi Barat, dan dataran tinggi Golan dibentengi dan kemudian didiami oleh penduduk Israel. Israel juga mengumumkan Yerusalem tidak bisa dibagi dan menjadi ibukotanya, tindakan ini menambah kebencian Negara-negara Arab terhadap Israel.Ketidaksepahaman ini mengantarkan pada Perang Arab-Israel selanjutnya pada tahun 1973.

Dampak Global

No Oil
Perang ini juga berdampak pada tingkat internasional, dugaan kuat Negara-negara Arab terhadap keterlibatan Inggris dan Amerika Serikat pada perang tersebut membuat Negara-negara Arab mengambil kebijakan baru. Irak dan Kuwait memotong pengiriman minyak ke Inggris dan Amerika Serikat, sementara itu Mesir, Syria, dan Aljazair memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Pemutusan hubungan diplomatik ketiga Negara terhadap Amerika Serikat diumumkan melalui radio, Mesir di Radio Kairo, Syria di Radio Damaskus, dan Aljazair di Radio Aljzir.

Keterlibatan Amerika Serikat dalam perang tersebut dilaporkan oleh Radio Kairo dengan menyebutkan bahwa terdapat 32 pesawat AS yang terbang dari pangkalan udara Wheelus di Libya menuju Israel. Tuduhan yang dilayangkan oleh Kairo dibantah oleh Pentagon dengan menyebutkan bahwa 20 pesawat transport militer AS itu dikirim dari Eropa untuk mengevakuasi penduduk Amerika sebagai “tindakan pencegahan”. Tentu saja hal ini tidak diterima oleh Negara-negara Arab, Aljazair juga memotong pengiriman minyak ke AS mengikuti langkah Irak dan Kuwait.

Kesimpulan

Perang ini berjalan sangat cepat dengan kemenangan di tangan Israel. Srategi penyerangan mendadak (Surprise Attack) yang dilancarkan oleh Israel berhasil melumpuhkan pasukan udara dari Mesir, Syria, dan Yordania. Kehancuran Pasukan Udara ketiga Negara itu membuat Israel menguasai Udara dengan mudah, sehingga pasukan darat dengan mudah memenangkan pertempuran darat dengan bantuan dari pasukan udara. Mesir, Syria, dan Yordania mengalami kerugian yang besar. Disamping kehilangan banyak pasukan, ketiga Negara ini juga harus rela sebagian wilayahnya dikuasai oleh Israel.

AS Terlibat?
Kemenangan Israel diduga kuat akibat bantuan dari Inggris dan Amerika Serikat. Berangkat dari dugaan itu, Negara-negara Arab segera mengambil tindakan, Mesir, Syria, dan Aljazair memutus hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Irak, Kuwait, dan Alajazair memotong suplai minyak ke Inggris dan Amerika Serikat. Penelitian lebih lanjut mengenai keterlibatan AS perlu dilakukan, dan apakah AS terlibat dalam semua perang Arab-Israel sampai saat ini masih menjadi misteri yang harus diungkapkan.




Daftar Sumber :

St. Louis Post-Dispatch, June 6, 1967.

Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

"Arab-Israeli wars." Encyclopædia Britannica. Ultimate Reference Suite.  Chicago: Encyclopædia Britannica, 2010.

"Golan Heights." Encyclopædia Britannica. Ultimate Reference Suite.  Chicago: Encyclopædia Britannica, 2010.

"Nasser, Gamal Abdel." Encyclopædia Britannica. Ultimate Reference Suite.  Chicago: Encyclopædia Britannica, 2010.

Cohen, Shaul. "Six-Day War." Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.

Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Sumber Gambar:
Perang Enam Hari
http://suite101.com/


Gamal Abdul Nasser
http://egypt2lovers.blogspot.com/

  
Pasukan Israel di Gaza
http://mycatbirdseat.com/ 

Wilayah Timur Tengah Paska Perang Enam Hari
Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

No Oil
http://tomorrowspaper.wordpress.com/ 

AS Terlibat?
http://www.globalmuslim.web.id/

Try Out Online Soal Penilaian Akhir Semester (PAS) I Bahasa Indonesia

Selamat datang di halaman Try Out Online Soal Penilaian Akhir Semester (PAS) I Bahasa Indonesia. Di sini para siswa bisa berlatih menjawab s...