Showing posts with label sejarah indonesia. Show all posts
Showing posts with label sejarah indonesia. Show all posts

Friday, 15 June 2012

KEBIJAKAN EKONOMI PEMERINTAH JEPANG DAN PENGARUHNYA TERHADAP RAKYAT INDONESIA 1942-1945

KEBIJAKAN EKONOMI PEMERINTAH JEPANG DAN PENGARUHNYA TERHADAP RAKYAT INDONESIA 1942-1945

A. Kedatangan Jepang

Kapitulasi Kalijati
Kedatangan Jepang ke Indonesia menandakan berakhirnya kekuasaan Hindia-Belanda. Periode ini sangat menentukan perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Kedatangan Jepang ke Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari Perang Pasifik sebagai bagian dari Perang Dunia II. 

Sebelum menguasai wilayah Indonesia, Jepang menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour di bawah komando Laksamana Nagano pada 7 Desember 1941. Setelah melumpuhkan kekuatan Amerika Serikat di Pasifik, Pada tanggal 18 Desember 1941, Hindia Belanda mengumumkan perang dengan Jepang. Pada 1 Januari 1942, Jepang meresponnya dengan menyatakan perang dengan Hindia-Belanda. Militer Jepang masuk ke Hindia-Belanda melalui Tarakan (Kalimantan) (Lubis, 2004:144).

Selanjutnya militer Jepang bergerak ke Pulau Jawa, mereka dengan mudah menghancurkan armada laut sekutu di Laut Jawa, kemudian mendarat di daerah Eretan Wetan, Cirebon dan Banten pada 1 Maret 1942. Militer Jepang pada hari yang sama, berhasil menguasai lapangan udara Kalijati, Subang. Pemerintah Kolonial berusaha merebut kembali lapangan udara Kalijati pada 2-4 Maret 1942, tetapi gagal.

Pada 5 Maret 1942, militer Jepang, bersiap-siap untuk menggempur Ciater dan diteruskan ke Bandung. Pasukan Belanda yang berada di Ciater terpaksa mundur ke Lembang. Kekuatan Jepang tidak dapat dibendung oleh pasukan Belanda, akhirnya pada 7 Maret 1942, Lembang berhasil dikuasai oleh Jepang. Pasukan Sekutu yang bertahan di Bandung akhirnya menyerah pada 9 Maret 1942, Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang (Lubis, 2004:145-146).

B. Kebijakan Umum Pemerintah Jepang

Perang Asia Timur Raya
Berakhirnya Pemerintahan Hindia-Belanda yang digantikan oleh Pemerintahan Jepang tentu disertai perubahan kebijakan. Pemerintah Jepang sangat memerlukan sumber daya untuk menunjang militernya dalam Perang Pasifik. Demi kelancaran dalam memperoleh sumber daya, Pemerintah Jepang pada awal kedatangannya membuat berbagai kebijakan yang menarik simpati rakyat Indonesia.

Bahasa Indonesia dan bendera merah putih tidak lagi dikekang oleh pemerintah. Pribumi yang berpendidikan mendapat jabatan di pemerintahan. Ulama pun digandeng oleh pemerintah Jepang, berbeda dengan pemerintah Hindia-Belanda yang kerap bersitegang dengan ulama. Upaya-upaya tersebut berhasil membuat rakyat Indonesia bersimpati.

Propaganda Jepang
Kebijakan pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang adalah melarang kegiatan berkumpul dan dan rapat, tertuang dalam UU No. 2 yang diperkuat dalam UU No. 3 pada 20 Maret 1942, yang isinya melarang segala macam perbincangan, pergerakan, atau propaganda mengenai aturan dan susunan organisasi Negara (Lubis, 2004:150). Pergerakan politik rakyat Indonesia yang pada pemerintahan Hindia-Belanda begitu gencar menjadi terhambat pada pemerintahan Jepang. Pemerintah Jepang membuat berbagai badan untuk mengalihkan dan menumpulkan radikalisme dari partai politik yang ada sebelumnya.

Stratifikasi sosial pada pemerintahan Jepang berubah, Jepang berada di posisi teratas disusul oleh Timur Asing dan Indonesia pada lapis kedua, dan Belanda serta Eropa pada lapis ketiga, sebelumnya pada pemerintahan Hindia-Belanda Jepang berada di lapis kedua dan Belanda serta Eropa di lapis pertama. Penempatan orang Belanda dan Eropa pada lapis ketiga berdampak pada perkebunan yang telah mereka bangun. Perkebunan milik Belanda dan Eropa disita oleh Jepang. Berbagai kebijakan yang mengatur perkebunan dikeluarkan, seperti produksi, rehabilitasi, dan pemberian kredit (Lubis, 2004:152).

C. Kebijakan Ekonomi Pemerintah Jepang

Romusha
Demi mencukupi kebutuhannya, Jepang mengeluarkan kebijakan ekonomi romusha. Sedikitnya terdapat dua ratus ribu orang pribumi dipekerjakan, kebanyakan dari pekerja itu bekerja sampai mati. Ribuan wanita Indonesia pun dipaksa untuk melayani tentara Jepang (disebut juga Jugun Ianfu) (Drakeley, 2005:69). Kebijakan romusha sangat merugikan rakyat, banyaknya pekerja yang terlibat menjadi romusha disebabkan ketidaktahuan mengenai apa sebenarnya romusha itu.

Sistem perekrutan diselenggarakan di desa-desa melalui lurah/kepala desa. Kondisi ekonomi yang serba sulit membuat dan iming-iming kehidupan yang lebih baik membuat rakyat melamar menjadi romusha. Tenaga kerja yang melamar menjadi romusha dipaksa bekerja di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan Jepang. Pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan yang berat, seperti pembangunan infrastruktur, lapangan terbang, benteng pantai, lubang perlindugan, parit perlindungan, dan pabrik amunisi (Kurosawa, 1993:144).

Romusha dalam kesepakatan mendapatkan bayaran sebesar F. 0.50/hari dan F. 30/bulan dikirim ke keluarga mereka. Pada praktiknya, romusha dibayar kurang dari kesepakatan atau bahkan tidak dibayar. Pembayaran di setiap tempat kerja paksa berbeda-beda, ada yang dibayar F. 0.14/hari hingga F. 1.00/hari. Namun, upah yang diterima oleh romusha tidak mencukupi biaya hidupnya, harga gabah/kg adalah F. 0.10 pada Maret 1944 (Kurosawa, 1993:149).

Ilustrasi: Pabrik yang Ditinggalkan
Kebijakan lainnya adalah, penekanan angka produksi perkebunan karena tidak berkaitan dengan kebutuhan perang, fokus utama Jepang adalah peningkatan produksi beras. Akibat kebijakan ini, produksi perkebunan yang tinggi pada masa Hindia-Belanda, menjadi turun drastis. Salah satunya adalah melemahnya industri gula. Industri gula melemah karena kebijakan pemerintah Jepang untuk mengurangi produksi gula yang telah direncanakan sejak awal kedatangan. Pengurangan ini dilakukian bertahap dan rahasia.

Semua perusahaan gula milik Belanda dan Eropa disita, kemudian Jepang menyerahkan pengelolaan industri gula kepada enam perusahaan milik Jepang. Enam perusahaan Jepang tersebut membawahi perusahaan-perusahaan Belanda dan Eropa. Jumlah perkebunan selama pendudukan Jepang terus berkurang, dari 85 (1942) menjadi 13 (1945).

Begitu pula dengan angka produksi, pada tahun 1942, produksi gula mencapai 1.325.802 ton, menurun drastis menjadi hanya 84.245 ton pada tahun 1945. Jumlah produksi pada tahun 1945 merupakan jumlah yang terburuk, lebih rendah dari masa Depresi (1935) yang mencapai 506.659 ton (Kurosawa, 1993:37-43). Tidak hanya produksi gula yang menurun, produksi karet karena produksi di Jawa dan Kalimantan terhenti hal yang sama juga tejadi pada komoditas teh (Ricklefs, 2001:249).

Perkebunan Tebu Tak Lagi Berdenyut
Kecenderungan penurunan produksi ini berdampak kepada para petani. Para petani yang memiliki tanah merasa diuntungkan dengan pengurangan produksi gula. Mereka tidak lagi disibukkan dengan irigasi dan pengembalian tanah, mereka dapat menaman padi. Kondisi yang berbeda dialami oleh petani yang tidak memiliki tanah, jumlahnya lebih banyak daripada petani yang memiliki tanah.

Mereka menggantungkan hidupnya dari upah perkebunan. Begitu produksi gula dikurangi, kehidupan mereka menjadi semakin sulit. Akibat, pengurangan produksi gula, jumlah pengangguran meningkat. Para pengangguran ini banyak dimobilisasi oleh kinro hoshi (tenaga kerja sukarela) untuk menjadi romusha (Kurosawa: 1993:47). Pilihan yang benar-benar sulit.

Terdapat usaha-usaha untuk memperbaiki kondisi ini, pada Juli 1944, Fujinkai dan Kridodarmo membuatkan 200.000 baju untuk dihadiahkan kepada romusha, bahan pembuatan baju ini disediakan oleh Koochi Zimu Kyoku (Sinar Baroe, 15 Juli 1944:3). Perhatian bagi keluarga romusha pun berdatangan dari badan-badan bentukkan Jepang, pada bulan yang sama, keluarga dan anak-anak romusha diberikan sejumlah pakaian dan uang (Surakarta dan Surabaya) (Asia Raya, 15 Juli 1944:2).

Mereka pun diberikan pekerjaan untuk menambah hasil bumi atau membuat pakaian (Sinar Baroe, 29 Juli 1944:3). Kemudian pada September 1944, dukungan terhadap romusha juga muncul dari Chuoo Sangi in, yang menempatkan romusha sebagai prajurit ekonomi, artinya mereka layak diberi penghargaan sama seperti prajurit PETA dan Heiho.

Para Romusha
Sebagai bukti penghargaan kepada romusha, di Pati diadakan sayembara untuk membuat sebuah model penghargaan yang nantinya akan ditempelkan di depan pintu rumah keluarga romusha, sama seperti yang diberikan pada prajurit Heiho (Sinar Baroe, 1 September 1944:1). Pada Februari 1945, terdapat gerakan menyempurnakan urusan pengerahan tenaga romusha, tujuan gerakan ini adalah untuk menyempurnakan romusha, salah satunya adalah dengan memperlakukan romusha dengan baik, seperti keluarga (Sinar Baroe, 19 Februari 1945:2). Pemberian penghargaan dan pelabelan romusha sebagai prajurit ekonomi sangat berkait dengan upaya Jepang untuk menyamarkan kondisi nyata romusha kepada dunia internasional.

D. Kesimpulan

Jepang membutuhkan sumber daya untuk menunjang Perang Pasifik. Indonesia yang berhasil dikuasai oleh Jepang, merupakan “gudang” sumber daya, terdapat banyak sumber daya alam dan sumber daya manusia. Untuk menjamin kelancaran perang, Jepang berusaha untuk menarik simpati rakyat Indonesia dengan menampilkan kesan pertama yang begitu baik. Terdapat kebijakan yang menguntungkan pribumi, dan kebanyakan dari kebijakan lainnya merugikan pribumi.

Eksploitasi ekonomi merupakan bukti nyata dari kebijakan yang sangat merugikan pribumi. Bentuk dari kebijakan ini adalah romusha, atau kerja paksa. Sekitar dua ratus ribu rakyat pribumi menjadi romusha. Pekerjaan yang dilakukan romusha merupakan kerja yang berat, tetapi upah yang diberikan tidak sebanding dengan pekerjaan dan harga barang-barang kebutuhan. Pengurangan produksi perkebunan mengakibatkan para petani yang menganggur memilih untuk menjadi romusha. Lingkaran setan eksploitasi ekonomi ini terus ada sampai tahun 1945, ketika Jepang menyerah pada sekutu dan Indonesia merdeka.

Daftar Pustaka :
Buku:
Drakeley, Steven.2005.
The History of Indonesia. Westport: Greenwood.

Kurosawa, Aiko.1993.
Mobilisasi dan Kontrol;Studi tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945. Jakarta: Grasindo.

Lubis, Nina H. 2004.
Banten dalam Pergumulan Sejarah; Sultan, Ulama, Jawara. Jakarta: LP3ES.

Ricklefs, M.C.2001.
A History of Modern Indonesia since c. 1200; Third Edition. Basingstoke: Palgrave.

Koran (www.niod.x-cago.com):
Asia Raya, 15 Juli 1944
Sinar Baroe, 15 Juli 1944
Sinar Baroe, 29 Juli 1944
Sinar Baroe, 1 September 1944
Sinar Baroe, 19 Februari 1945

Sumber Internet:

http://www.bloggaul.com/martanto/readblog/100459/kebijakan-ekonomi-pemerintahan-jepang-dan-perubahan-sosial-ekonomi-masyarakat-jawa-tahun-1942-1945

Sumber Gambar:
Kapitulasi Kalijati
http://bloggerpurworejo.com/  

Perang Asia Timur Raya
http://sejarahperang.com/

Propaganda Jepang
http://genius.smpn1-mgl.sch.id/

Romusha
http://sdnbaktijaya01.wordpress.com/

Ilustrasi: Pabrik yang Ditinggalkan
http://tmdag.com/

Perkebunan Tebu Tak Lagi Berdenyut
http://bisnisukm.com/

Para Romusha
http://pojokmiliter.blogspot.com/

Monday, 21 May 2012

KARYA SEJARAH MARITIM INDONESIA

KARYA SEJARAH MARITIM INDONESIA
RINGKASAN DAN ANALISIS BUKU


IDENTITAS BUKU
Judul : Makassar Abad XIX; Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim
Pengarang : Edward L. Poelinggomang
Tahun Terbit : 2002
Penerbit : KPG

RINGKASAN
Makassar

Pada masa prakolonial, terdapat banyak pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan di wilayah Nusantara. Satu diantara pelabuhan-pelabuhan itu adalah Makassar. Makassar tidak begitu saja menjadi kota pelabuhan besar. Sebelum abad ke-16, Makassar belum menjadi pelabuhan besar. Transformasi Makassar menjadi pelabuhan besar dimulai dari tahun 1510, ketika Ibukota Kerajaan Gowa dipindahkan dari Tamalate ke Makassar. 



Perpindahan ini berdampak pada perekonomian kerajaan, yang semula agraris menjadi perdagangan. Lahirnya Bandar Makassar merupakan gabungan dari dua Bandar milik Kerajaan Tallo dan Gowa, keduanya bergabung dan membentuk satu pemerintahan yang kemudian melakukan perluasan wilayah di Sulawesi Selatan.

Makassar 1750
Dalam rangka perluasan wilayah, Raja Gowa, Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1546-1565) menaklukkan kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan. Akibatnya, Makassar menjadi bandar besar tunggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kapal-kapal asing banyak berlabuh di Makassar karena selain bandar tunggal, lokasinya sangat strategis. 


Pada abad ke-17, pedagang asing diperkenankan membangun perwakilan dagang di Makassar, begitu pula sebaliknya. Situasi aman dan damai ini mulai terganggu sepanjang tahun 1615 sampai 1655. VOC yang juga turut berdagang, memaksakan hak monopoli perdagangan, tentu saja hal ini ditolak oleh Sultan Gowa. Puncaknya pada 1655-1669 pecah perang Makassar, Kerajaan Gowa yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hasanuddin terpakasa menyerah pada tahun 1667 dengan menandatangani Perjanjian Bongaya. 


Sultan Hasanudin
Konsekuensinya kekuatan dan kekuasaan VOC di Makassar semakin nyata, kantor-kantor perwakilan dagang asing dibubarkan untuk menjamin monopoli VOC berjalan lancar. Pada 1669, Sultan Hasanuddin kembali melakukan perlawanan tetapi dapat dipatahkan oleh VOC. Perjanjian di Binanga pun dibuat untuk menegaskan Perjanjian Bongaya.

Kekuatan VOC di Makassar sangat dipengaruhi oleh keadaan politik Belanda di Eropa. Rivalitas antara Belanda dengan Inggris terjadi juga di wilayah koloninya. Makassar yang dikuasai VOC bersaing dengan Singapura yang dikuasai Inggris. Singapura yang mempraktekkan perdagangan bebas lebih maju dibandingkan dengan Makassar yang menganut merkantilisme. 


Kekuasaan VOC di Nusantara berakhir pada 1799, kemudian diteruskan oleh kekuasaan imperial Belanda yang membentuk Hindia-Belanda. Kondisi Belanda yang tidak bagus di Eropa, membuat Inggris menguasai Nusantara sepanjang 1811-1816 di bawah T.S. Raffles. Belanda mulai bangkit dan membuat Inggris mengembalikan Hindia-Belanda sesuai konvensi Inggris, sebagai gantinya Belanda harus menjalankan perdagangan bebas. Pelaksanaan perdagangan bebas sebagai konsekuensi pengambilalihan Hindia-Belanda dari Inggris tidak dijalankan. Sampai pada tahun 1924, Inggris kembali mendesak melalui Traktat London untuk mempertegas Konvensi London.

Pada tahun 1847, Hindia-Belanda kembali menetapkan Makassar sebagai pelabuhan terbuka. Pemerintah Hindia-Belanda tidak membuka sepenuhnya, banyak aturan yang diberlakukan. Aturan-aturan tersebut antara lain, pajak perdagangan yang tinggi, pelarangan komoditas tertentu (senjata), dan menetapkan aturan pelayaran yang ketat. Upaya ini dilakukan untuk melindungi Batavia sebagai pusat ekonomi. 


Ilustrasi: Pelabuhan
Kebijakan ini menuai protes dari perusahaan dagang yang ada di Hindia-Belanda, mereka menyayangkan pemberlakukan aturan tersebut. Setelah bertahan sebagai pelabuhan terbuka selama 59 tahun, pemerintah Hindia-Belanda menjadikan Makassar sebagai pelabuhan tertutup lagi. Akibatnya, tidak ada kapal dagang asing yang singgah disana. Sementara itu Singapura menjadi pusat perdagangan internasional seperti Makassar pada abad ke-17.

IDENTITAS BUKU
Judul : Orang Laut Bajak Laut Raja Laut; Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX
Pengarang : A.B. Lapian
Tahun Terbit : 2009
Penerbit : Komunitas Bambu


RINGKASAN

"Kehidupan Laut"
Laut merupakan bagian penting bangsa ini. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada laut. Kegiatan tadi tidak terjadi pada masa kini saja, tetapi sudah terjadi sejak lama. Terdapat suku-suku yang menghabiskan waktu hidupnya di laut. Mereka membangun pemerintahan dan di dalamnya terdapat dinamika sosial. Karya A.B. Lapian membahas mengenai hal itu dengan fokus di wilayah laut Sulawesi Abad XIX. Dalam buku ini dijelaskan bahwa terdapat tiga tipe kekuatan bahari, yaitu Orang Laut, Bajak Laut, dan Raja Laut.

Orang Laut merupakan tipe terkecil dari ketiga tipe kekuatan bahari. Orang Laut terbatas pada tempat tinggalnya dan secara sosio-politis struktur dan organisasinya masih sederhana. Kesederhanaan itu dikarenakan Orang Laut merupakan kekuatan terkecil, seringkali bergesekan dengan kekuatan Bajak Laut atau Raja Laut. 


Orang Laut memiliki dua pilihan untuk menghadapi gesekan tersebut, yaitu memilih untuk bekerja sama, artinya mereka masuk ke lingkaran Bajak Laut atau Raja Laut. Bentuk kerjasamanya dapat berupa barter barang-barang kebutuhan atau terlibat dalam ekspedisi laut yang dilakukan oleh Bajak Laut atau Raja Laut. Pilihan yang kedua adalah pindah ke tempat lain. Konsekuensinya tempat tujuan akan kian berkurang, akibatnya Orang Laut hanya mendiami tempat seadanya, seperti pulau batu karang.

Bajak Laut :D
Bajak Laut merupakan kekuatan bahari yang berada diantara Orang Laut dan Raja Laut. Bajak Laut dapat dibagi menjadi dua, yaitu Bajak Laut murni penjahat dan Bajak Laut yang merupakan gerakan perlawanan terhadap tiran. Pelabelan Bajak Laut sendiri sangat subjektif. Penguasa asing seringkali (Raja Laut Asing) memberikan label tersebut. 


Terlepas dari pelabelan tersebut, ada hubungan yang terjalin di antara Bajak Laut dengan Raja Laut, seperti peran Bajak Laut yang menangkap Orang Laut untuk dijadikan budak, kemudian diserahkan kepada Raja Laut untuk menjamin ketersediaan tenaga kerja. Bajak Laut dapat menjadi Raja Laut ketika Raja Laut dalam kondisi lemah.

Raja Laut merupakan kekuatan yang legal di lautan. Raja Laut pada mulanya adalah pribumi tetapi pada masa kolonialisme digantikan oleh Raja Laut asing. Hal ini terjadi karena Raja Laut asing memiliki teknologi yang lebih maju daripada Raja Laut pribumi. Raja Laut asing pula yang menamakan setiap perlawanan laut kepadanya dilakukan oleh Bajak Laut. Di sisi lain, Raja Laut membutuhkan Bajak Laut untuk menjamin ketersediaan tenaga kerja.

ANALISIS

Raja Laut
Benang merah kedua karya ini adalah kemaritiman. Pada karya pertama, dijelaskan mengenai Kerajaan Gowa yang memiliki kekuatan perdagangan maritim di pelabuhan Makassar. Pembangunan Makassar menjadi pelabuhan besar dilakukan dengan menaklukkan pelabuhan-pelabuhan lain di Sulawesi Selatan. Dampaknya, Makassar menjadi pelabuhan besar tunggal di Sulawesi Selatan. Namun, kondisi menjadi buruk ketika VOC mengambil alih Makassar. Bagitu pula pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, kebijakan-kebijakan yang ketat dan kontra perdagangan bebas menuai protes dari berbagai perusahaan dagang. Akibatnya, Makassar menjadi lemah dan tertinggal jauh dari saingannya Singapura.

Karya kedua menjelaskan mengenai stratifikasi dan dinamikanya di laut Sulawesi abad XIX. Terdapat tiga kekuatan bahari yang ada di laut Sulawesi, yaitu Orang Laut, Bajak Laut, dan Raja Laut. Ketiganya saling berkaitan seperti dalam hal penyediaan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh Raja Laut, Bajak Laut merupakan penyedia tenaga kerja yang diambilnya dari Orang Laut. Namun, dalam hal-hal lain ketiga kekuatan ini saling bertentangan.

Istana Kerajaan Gowa
Karya pertama dan kedua menjelaskan secara implisit mengenai pembangunan jaringan. Karya pertama menjelaskan bahwa jaringan dibangun dengan penaklukan wilayah lain di Sulawesi Selatan. Gowa tidak hanya melakukan penaklukkan tetapi juga menjalin kerjasama dengan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan. Pada karya kedua, dijelaskan bahwa wilayah Orang Laut begitu luas dan biasanya di tempat Orang Laut tinggal ada jejak Bajak Laut. Saya berasumsi, penyebaran Orang Laut merupakan sebuah jaringan yang apabila ditelusuri akan berkaitan dengan Bajak Laut dan Raja Laut, dalam hal ini, Saya menduga berhubungan dengan suplai tenaga kerja dan barter kebutuhan sehari-hari.

Dalam kedua karya di atas, dapat pula dilihat hubungan antara pemerintah dan pengusaha. Pada karya pertama, dijelaskan bahwa Kerajaan Gowa memperkenankan para pedagang asing untuk membangun kantor perwakilan dagangnya di Maskassar. Berdasarkan keterangan tadi, dapat dipahami bahwa hubungan Kerajaan Gowa dengan para pengusaha berlangsung baik. 


Orang Laut
Namun, ketika VOC berkuasa atas Makassar dan dilanjutkan olah Hindia-Belanda, kantor perwakilan dagang asing dibubarkan dan ditetapkan berbagai aturan yang merugikan pengusaha sehingga membuat hubungan antara pemerintah Hindia-Belanda dengan pengusaha sangat buruk. Pada karya kedua, dapat dilihat gesekan antara pengusaha dengan penguasa. Raja Laut seringkali menindas Orang Laut, sehingga Orang Laut seringkali pindah mencari tempat tinggal baru. Tetapi ada juga Orang Laut yang bertahan dan melakukan tukar-menukar barang kebutuhan sehari-hari dengan Raja Laut ataupun Bajak Laut.


Sumber Gambar:
Makassar
http://www.butikwisata.com/

Makassar 1750
http://aroelaidah.wordpress.com/

Sultan Hasanudin
http://rizkypgaus.blogspot.com/

Ilustrasi: Pelabuhan
http://www.marcorama.nl/

"Kehidupan Laut"
http://edophilia.multiply.com/

Bajak Laut
http://wedeh.wordpress.com/

Raja Laut
http://januarman.wordpress.com/

Istana Kerajaan Gowa
http://foto.detik.com/

Orang Laut
http://syaifulhalim.blogspot.com/

Tuesday, 17 April 2012

SEKELUMIT TOKOH EKONOMI INDONESIA

SEKELUMIT TOKOH EKONOMI INDONESIA
oleh: Bimo Adriawan


Pendahuluan
Pembangunan
Ekonomi adalah faktor yang turut serta menentukan posisi kesejahteraan suatu bangsa. Kestabilan ekonomi dan pertumbuhannya sangat berperan dalam kemajuan serta pembangunan yang sedang gencar dilakukan oleh bangsa Indonesia. Setelah kemerdekaan sampai sekarang perekonomian belum menunjukkan kestabilan, mungkin pada saat orde baru ekonomi bangsa Indonesia berada dalam kondisi yang cukup stabil meskipun dibaliknya banyak catatan hitam. 

Kondisi perekonomian kembali goyah pasca reformasi setidaknya hal tersebut dapat diamati dari jumlah pengangguran terdidik yang merangkak naik, harga barang yang melambung tinggi, dan nilai tukar rupiah yang lemah. Banyak tokoh Indonesia yang berjuang untuk memperkuat perekonomian bangsa Indonesia. 

Perjuangan para tokoh Indonesia untuk memperbaiki ekonomi Indonesia patut kita hargai meskipun kerap kali para pejuang ekonomi terlilit dengan kasus-kasus berkaitan juga dengan ekonomi yang membuat namanya tercemar.Berikut adalah dua tokoh dari banyak tokoh yang berjuang demi kemajuan ekonomi bangsa Indonesia :

Ibnu Sutowo (1914-2001) 

Ibnu Sutowo
Ibnu Sutowo lahir di Yogyakarta pada tanggal 23 September 1914 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 21 Januari 2001. Ibnu Sutowo merupakan seorang dokter yang bertugas di Palembang dan Martapura pada tahun 1940. 

Pasca kemerdekaan ia sempat bertugas sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara se-Sumatera Selatan (1946-1947). Masuknya Ibnu Sutowo ke militer sangat dimungkinkan karena pasca kemerdekaan Indonesia, bangsa ini membutuhkan banyak tenaga untuk memperkuat pertahanan karena melihat kemungkinan Belanda akan kembali lagi untuk menguasai Indonesia. Posisi militer tertinggi yang dijabat oleh Ibnu Sutowo adalah sebagai Pangdam Sriwijaya pada tahun 1955 dengan pangkat kolonel.

Pada tahun 1957, Ibnu Sutowo ditempatkan oleh atasannya Nasution sebagai pimpinan perusahaan minyak baru yang diberi nama Permina (perusahaan Minyak Nasional). Masuknya tentara ke dalam Industri minyak ini disebabkan oleh pengelolaan yang buruk karena pengambilalihan perusahaan itu tidak terlihat manfaatnya terhadap perekonomian dan juga tentara. 

Karena alasan itu lah Nasution menempatkan Ibnu Sutowo yang memiliki kemampuan administrasi yang baik sebagai pimpinan Permina. Pada tahun 1968 pemerintah memfokuskan kebijakan ekonominya pada minyak, meskipun industri lain yang memerlukan modal intensif dan teknologi tinggi serta menghasilkan mineral dan karet juga berkembang pesat.

Pertamina
Pengeboran lepas pantai dimulai pada tahun 1966 dan berkembang pesat pada tahun 1968. Pada Agustus 1968, peran bisnis tentara semakin kokoh ketika perusahaan minyak Pertamin (1961) dan Permina digabung menjadi Pertamina (Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara).

Ibnu Sutowo segera memperoleh reputasi internasional karena manajemennya yang agresif dan penuh visi. Pertamina hanya melakukan sedikit pengeboran sendiri, selebihnya perusahaan ini (bukan pemerintah) mengadakan perjanjian pembagian produksi dengan perusahaan asing. 

Pada era Ibnu Sutowo, produksi minyak tumbuh sekitar 15% pada tahun 1968-1969 dan hampir 20% pada tahun 1970. Kondisi tersebut didukung oleh para teknokrat yang mampu mengendalikan inflasi. Inflasi dapat berkurang sampai sekitar 85% pada tahun 1968, tetapi banyak rakyat belum merasakan kesejahteraan.

Perkembangan selanjutnya, rencana ekonomi pemerintah bergantung pada pengendalian pendapatan minyak, yang berarti harus mampu mengendalikan Pertamina. Di bawah kepemimpinan Ibnu Sutowo, Pertamina telah tumbuh menjadi salah satu korporasi terbesar di dunia. Pertamina menghasilkan sendiri 28.2% minyak nasional pada akhir tahun 1973 dan mengadakan perjanjian pembagian produksi dengan Caltex (menghasilkan 67.8% minyak) dan Stanvac (3.6%). 

Bina Graha
Pertamina juga menguasai 7 kilang minyak Indonesia, terminal-terminal minyak 116 kapal tangki, 102 kapal lainnya, dan sebuah masakapai penerbangan. Pertamina juga menanamkan modalnya di perusahaan semen, pupuk, gas alam cair, baja, rumah sakit, perumahan, pertanian padi, dan telekomunikasi, serta membangun kantor eksekutif kepresidenan (Bina Graha) di Jakarta. 

Hampir semua kebijakan Pertamina berada di luar kendali pemerintah dan untuk mendanai kebijakannya dilakukan hutang besar-besaran yang akhirnya membuat pemerintah memperketat syarat-syarat peminjaman dana oleh Ibnu Sutowo dari luar negeri. Pada bulan Februari 1975, Pertamina tidak mampu lagi membayar pinjamannya dari beberapa bank Amerika dan Kanada. Akhirnya pada tahun 1976, Ibnu Sutowo diberhentikan sebagai dirut Pertamina.

Kesimpulan
Ibnu Sutowo adalah seorang militer yang ditugaskan untuk menjabat sebagai pimpinan Permina (yang pada tahun 1968 berubah menjadi Pertamina selelah bergabung dengan Pertamin). Di bawah kepemimpinan Ibnu Sutowo, Pertamina menjadi sebuah perusahaan Negara yang besar dan turut mendongkrak perekonomian di Indonesia. Artinya penunjukan Ibnu Sutowo oleh Nasution membawa dampak yang baik. Kita seharusnya menghargai jasa Ibnu Sutowo dalam bidang ekonomi, di bawah kepemimpinannya Pertamina pada akhir 1960-an dan awal 1970-an menjadi perusahaan yang berkontribusi besar dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia.

Sumitro Djojohadikusumo (1917-2001)
Sumitro

Profesor Sumitro Djojohadikusumo adalah ahli ekonomi Indonesia yang mengeluarkan kebjiakan Sistem Ekonomi Gerakan Benteng ketika ia menjabat sebagai menteri perdagangan (1950-1953). Pada masa ia menjabat sebagai Menteri Perdagangan (1950-1953), Sumitro berusaha mengubah struktur ekonomi yang berat sebelah dengan menumbuhkan industrialisasi. 

Sasaran rencana itu dipusatkan pada pembangunan industri dasar, seperti pabrik semen, percetakan, pabrik karung, dan pemintalan. Kebijakan itu diikuti dengan perbaikan prasarana, liberalisasi pertanian, dan penanaman modal asing. Sumitro berpendapat bahwa bangsa Indonesia harus segera ditumbuhkan menjadi kelas pengusaha. 

Para pengusaha Indonesia yang pada umumnya bermodal lemah, diberi kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam membangun ekonomi nasional. Mereka harus dibimbing dan diberi bantuan kredit karena pemerintah menyadari bahwa pada umumnya mereka tidak mempunyai cukup modal. Dengan usaha secara bertahap. Pengusaha akan berkembang maju. Tujuannya adalah mengubah struktur ekonomi colonial ke struktur ekonomi nasional. Program Sumitro ini dikenal dengan nama Gerakan Benteng.

Selama tiga tahun (1950-1953) kurang lebih 700 perusahaan bangsa Indonesia mendapat program benteng. Namun, usaha tersebut tidak mencapai sasaran, karena pengusaha-pengusaha Indonesia ternyata lamban untuk menjadi dewasa. Bahkan ada yang menyalahgunakan bantuan tersebut. 

Bangkrut
Kegagalan program itu disebabkan pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha nonpribumi, dalam rangka pelaksanaan ekonomi liberal. Faktor lain berasal dari mentalitas pengusaha kita yang cenderung pada pola konsumtif, sehingga berkeinginan cepat mendapat keuntungan yang besar dan menikmati hidup mewah.

Kesimpulan
 
PRRI Permesta
Sumitro Djojohadikusumo adalah seorang ahli ekonomi Indonesia yang telah mencoba untuk mendongkrak pertumbuhan perekonomian bangsa Indonesia. Pemberian modal usaha untuk rakyat masih dilakukan sampai sekarang dengan perbaikkan di sana sini. Kita patut menghargai usaha dan program yang ia laksanakan selama menjadi pejabat di negeri ini. Bapak dari Prabowo Subianto ini juga sempat bergabung dalam PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) bersama Natsir, Burhanuddin Harahap dkk. Walaupun akhirnya dapat ditumpas oleh TNI. Hal tersebut tidak membuat nama Sumitro Djojohadikusumo menjadi tercemar. Keahliannya dalam bidang ekonomi membuat Presiden Soeharto menunjuknya menjadi Menteri Perdagangan pada tahun 1968. Sumitro adalah ekonom Indonesia yang patut kita banggakan.

Sumber Gambar: 
Pembangunan

Ibnu Sutowo

Pertamina

Bina Graha

Sumitro

Bangkrut

PRRI Permesta

Monday, 9 April 2012

SEKILAS TENTANG CANDI

SEKILAS TENTANG CANDI


Durga
Pengertian Candi dan Bagian-Bagiannya
Kata Candi berasal dari kata Candika yang merupakan salah satu nama dari Durga sebagai Dewi Maut. Pengertian Candi menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah bangunan kuno yang dibuat dari batu sebagai tempat pemujaan, penyimpanan abu jenazah. Jadi, candi adalah bangunan untuk memuliakan orang yang telah wafat, khususnya untuk orang-orang terkemuka atau raja. Namun, benda yang dikuburkan bukanlah mayat ataupun abu jenazah tetapi berbagai macam benda-benda seperti potongan logam, batu-batu akik yang disertai sesajen. 


Candi yang ditujukan sebagai pemakaman merupakan ajaran dari agama Hindu. Sedangkan candi yang ditujukan sebagai tempat pemujaan dewa merupakan ajaran dari agama Budha. Secara umum bentuk candi memiliki tiga bagian, yaitu: kaki, tubuh, dan atap. Bagian kaki berbentuk bujur sangkar dan agak tinggi. Bagian ini memiliki tangga yang dapat dinaiki. Bagian tubuh candi terdiri dari sebuah bilik yang berisi arca. Kemudian atap candi selalu terdiri dari tiga tingkatan yang semakin lama semakin kecil dan akhirnya diberi puncak yang berupa genta. 

Di dalam atap terdapat rongga yang dimaksudkan sebagai tempat bersemayam semetara sang dewa. Ketiga bagian candi tersebut melambangkantiga bagian alam semesta, yaitu :

Bagian-Bagian Candi
1. Kaki
Adalah alam bawah tempat manusia biasa

2. Atap
Adalah alam atas tempat dewa-dewa

3. Tubuh
Adalah alam antara tempat manusia yang telah meninggalkan keduniawiannya dan dalam keadaan suci menemui tuhannya.

Desain bangunan candi mengikuti Gunung Mahameru yang dipercaya sebagai tempat tinggal para dewa. Sehingga candi itu dihias (dipahat atau diukir) sesuai dengan alam gunung misalnya bunga-bunga,binatang-binatang dll. Ketentuan membangun candi terdapat dalam kitab Vastusastra atau Silpasastra yang dikerjakan oleh silpin yaitu seniman yang membuat candi (arsitek zaman dahulu). Pengelompokkan Candi Candi ada yang berdiri sendiri dan ada juga yang berkelompok. Candi yang berkelompok terdiri dari candi induk dan candi-candi perwara yang lebih kecil. Cara pengelompokkan candi ini berkaitan dengan alam pikiran serta susunan masyarakatnya sehingga dapat digolongkan menjadi tiga jenis (di Indonesia), yaitu :

1. Jenis Jawa Tengah Utara -Hindu Siwa-
Bentuk dan hiasannya sangat sederhana. Contoh: Candi Gunung Wukir, Candi Badul, Kel. Candi Dieng, Kel. Candi Gedong Songo
Candi Dieng

2. Jenis Jawa Tengah Selatan -Budha Mahayana-
Bentuk dan hiasannya megah. Contoh: Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Borobudur, Candi Mendut, Kel. Candi Sewu, Kel. Candi Plaosan, Kel. Candi Loro Jonggrang.
Candi Mendut


3. Jenis Jawa Timur (termasuk Bali dan Sumatra Tengah) -Tantrayana-
Bentuknya ramping, umumnya menghadap ke barat dan terbuat dari bata. Contoh : Candi Kidal, Candi Jago, Candi Songosari, Candi Jawi, Kel. Candi Panataran, Kel. Candi Muara Takus, Kel Candi-candi Gunung Tua.
Candi Muara Takus
Secara umum perbedaan antara candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah :

JAWA TENGAHJAWA TIMUR
Bentuk bangunannya tambunBentuk bangunannya ramping
Atapnya nyata berundak-undakAtapnya merupakan perpaduan tingkatan
Puncaknya stupaPeuncaknya berbentuk kubus
Reiefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalisReliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis
Letak candi di halaman tengahLetak candi di bagian belakang
Mayoritas menghadap ke timurMayoritas menghadap ke barat
Kebanyakan terbuat dari batu andesitKebanyakan terbuat dari batu bata

Bangunan lain yang ada di dalam candi adalah gapura biasanya ada di mulut, biasa juga disebut candi. Contoh Candi Jedong, Candi Plumbangan, dan Candi Bajang Ratu. Gapura hanyalah sebagai pintu keluar masuk maka didalamnya terdapat celah yang dapat dilewati.

Candi Bajang Ratu


DAFTAR SUMBER:

Soekmono, R. 1988.
Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2
. Cet.Kelima. Yogyakarta: Kanisius.

MacDonald, William L. "Temple (building)." Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.

"http://id.wikipedia.org/wiki/Candi.htm”

Sumber Gambar:
Durga
  
Bagian-Bagian Candi

Candi Dieng

Candi Mendut

Candi Muara Takus

Candi Bajang Ratu

Try Out Online Soal Penilaian Akhir Semester (PAS) I Bahasa Indonesia

Selamat datang di halaman Try Out Online Soal Penilaian Akhir Semester (PAS) I Bahasa Indonesia. Di sini para siswa bisa berlatih menjawab s...